Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga Sukhinah dalam Agama Hindu

 Keluarga Sukhinah dalam Agama Hindu


Padaning ku-putra taru guska tumuwuh i ri madhyaning wana,
maghasagerit mateah. agni sahana-hananing halas geseng,
ikanang su-putra taru candana tumuwuh i i ring wanantara,
plawagoraga mrega kaga bhramara mara riya padaniwi.

Terjemahannya:
Anak yang jahat sama dengan pohon kering di tengah hutan,
karena pergesekan dan pergeseran, keluar apinya,
lalu membakar seluruh hutan akan tetapi anak yang baik
sama dengan pohon cendana yang tumbuh di dalam lingkungan hutan, kera, ular, hewan
berkaki empat, burung dan kumbang datang mengerubunginya (Nitisastra XII. 1).

Semua agama selalu mengajarkan tentang kebajikan (dharma) tidak ada satupun
agama yang mengajarkan tentang keburukan (adharma), baik dalam menjalani
kehidupan maupun dalam berkeluafga. Dalam ajaran agama Hindu sebuah keluarga
dikatakan sejahtera dan bahagia itu dimulai dari sebuah perkawinan yang sah sehingga
bisa dikatakan sebagai keluaga yang Sukhinah, karena cikal bakal dari sebuah keluarga
dasarnya adalah perkawinan antara wanita dan lelaki sehingga menghasilkan katurunan.

KitabManaya Dharmasastra LX. 96 menjelaskan sebagai berikut: :
“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah.
Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”
terjemahan :

“Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan 'dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu
diciptakan. Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan
oleh suami dengan istrinya"

Untuk bisa terwujudnya keluarga yang sejahtera hendaknya hubungan suami istri
harus dijaga sampai akhir hayat. Seperti apa yang tertuang dalam Manava
Dharmasastra IX. 101 dan 102 sebagai berikut :

“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,
Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”
Terjemahan :
“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini )
harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri ”. .

“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,
Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram “
Terjemahan :

“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan,
mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan
hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain"

Bagi kalian yang ingin belajar trading, kalian bisa megklik link Trading Binomo, kalian bisa mendapatkan akun demo 1000 dollar/ 14 Juta untuk latihan kalian dalam Trading, jadi buruan buka akun kalian dan nikmati pengalaman trading yang meyenangkan.

Berdasarkan kedua sloka di atas nampak jelas bahwa agama Hindu tidak
menginginkan adanya perceraian, bahkan sebaliknya, dianjurkan agar perkawinan yang
kekal hendaknya dijadikan sebagai tujuan tertinggi bagi pasangan suami istri. Dengan
terciptanya keluarga sejahtera juga bahagia dan kekal maka kebahagiaan yang kekal
akan tercapai pula.

Ini sesuai dengan ajaran Veda dalam kitab Manava Dharma sastra III. 60, sebagai berikut:
“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,
Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”

terjemahannya:
Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan
demikian pula istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal
Hiburan dan tradisi
Hiburan dan tradisi Nama saya I Putu Agus Aryadi Pranata Putra

Post a Comment for "Keluarga Sukhinah dalam Agama Hindu"